Isu mengenai Kristen Sionis kembali menjadi perbincangan hangat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel, Iran, dan negara‑negara di Timur Tengah. Banyak orang Kristen dituduh sebagai “Sionis” hanya karna menunjukkan dukungan terhadap Israel. Dalam sebuah diskusi panjang, Ps Lukas Kusuma dan Ps Esra Soru mengupas tuntas sejarah, konteks Alkitab, serta sikap yang seharusnya dimiliki orang percaya.
Sebenarnya ini bukan hal baru bagi saya dalam pembahasan Iran. Sejak lama saya sering bicara melalui IG story terkait Persia yang berganti nama menjadi Iran, dan sejarah panjangnya Persia dengan Israel/ orang-orang Yahudi.
Kemabli ke istilah Kristen Sionis tadi, Istilah Kristen Sionis sering digunakan sebagai label negatif. Mereka yang mendukung Israel dianggap fanatik atau tidak peka terhadap penderitaan bangsa lain. Padahal, banyak orang Kristen mendasarkan pandangannya pada pemahaman Alkitab, bukan pada agenda politik. Ps Esra menekankan bahwa sebelum menilai, kita perlu memahami sejarah Israel dan bagaimana bangsa itu terbentuk kembali setelah ribuan tahun terserak.
Pembahasan dimulai dengan menelusuri sejarah bangsa Israel:
- Kerajaan Israel terpecah menjadi dua: Israel Utara (10 suku) dan Yehuda (2 suku).
- Israel Utara ditaklukkan Asyur dan tidak pernah kembali.
- Yehuda dibuang ke Babel, lalu kembali pada masa Ezra dan Nehemia.
- Tahun 70 M, Romawi menghancurkan Yerusalem dan bangsa Yahudi tersebar ke seluruh dunia.
Pada abad ke‑19, Theodor Herzl menggagas gerakan Sionisme, yaitu upaya mengembalikan bangsa Yahudi ke tanah air leluhur mereka. Gerakan ini bukan gerakan religius, tetapi nasionalisme yang lahir dari pengalaman panjang penganiayaan yang dialami bangsa Israel.
Menariknya, Iran (dulu Persia) memiliki peran penting dalam sejarah Israel:
- Raja Koresh memulangkan bangsa Yahudi dari pembuangan Babel.
- Koresh bahkan disebut “yang diurapi” dalam konteks penugasan ilahi.
- Tokoh‑tokoh seperti Daniel, Ester, dan Mordekai hidup di Persia dan berpengaruh besar disana.
Karna itu, hubungan Israel–Iran tidak bisa dilihat hanya dari konflik modern pasca revolusi Iran 1978.
Ps Esra dalam tayangan Youtube tsb menjelaskan bahwa:
- “Palestina” adalah nama yang diberikan Romawi setelah pemberontakan Yahudi.
- Orang Palestina modern adalah bangsa Arab yang bermigrasi sejak abad ke‑7.
- Mereka tidak memiliki hubungan etnis dengan bangsa Filistin dalam Alkitab.
Pemahaman ini penting agar diskusi mengenai Israel–Palestina tidak terjebak pada asumsi sejarah yang keliru.
Apakah Kristen Sionis Itu Salah?
Menurut kedua pembicara, yang dimana saya pribadi pun setuju bahwa mendukung Israel bukan berarti membenci bangsa lain.
Ada dua ekstrem yang harus dihindari:
- Membenci Israel seperti layaknya mayoritas Muslim Indonesia
- Mengidolakan Israel secara berlebihan layaknya sebagian Kristen
Dukungan Kristen seharusnya berakar pada pemahaman bahwa Tuhan memiliki rencana bagi bangsa Israel, namun kasih Kristus tetap berlaku bagi semua bangsa. Dan Israel dikatakan berseteru dengan Tuhan, justru menjadi peluang baik bagi kita, bangsa non Yahudi.
Komentar saya secara pribadi
Saya tetap konsisten mengatakan bahwa mendukung Israel adalah berada di pihak Tuhan. Karna dengan ada nya Israel, maka itu pertanda waktu ini adalah waktu yang terakhir. Israel akan di kumpulkan kembali ke tanah nya dan pengikut Kristus akan bekerja disana untuk memberitakan Injil bagi mereka. Tentu akan mengalami penderitaan yang berupa cibiran hingga penganiayaan. Ini bukan hal baru. Pola ini sudah terjadi sejak awal pelayanan para rasul, dan memang itu lah yang sudah di nubuatkan Yesus atas pengikut Nya. Dan kemungkinan besar akan terulang dengan intensitas yang lebih tinggi. Bukan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses yang memang sudah “built-in” dan bagian dari validasi dalam perjalanan iman Kristen itu sendiri.
Dititik ini, dukungan kepada Israel sebetulnya adalah lebih kepada soal membaca arah waktu. Israel menjadi semacam “time marker”, indikator bahwa sebuah rangkaian peristiwa yang sudah Yesus katan 2000an tahun lalu sedang bergerak menuju puncaknya. Jadi bukan soal politik atau posisi geopolitik, seperti yang dituduhkan orang.
Dan jika pola ini benar, maka konsekuensinya juga jelas: semakin dekat kepada penggenapan, maka probabilitas tekanan terhadap orang percaya juga akan meningkat.
Yesaya 2
Seperti yang sudah pernah saya bahas dalam postingan yang sebelumnya disini, bahwa setiap penglihatan / nubuatan para nabi, meskipun di tulis dalam satu halaman Alkitab, tetapi gap terjadi antar fase 1 dan fase selanjutnya bisa sangat jauh, bahkan ratusan hingga ribuan tahun. Begitu juga dengan nubuatan tentang Sion ini. Bagi kita orang Kristen tentu ini melalui Yesus Kristus, tetapi bagi orang Yehuda? belum.
- Yesaya 2 Sion sebagai pusat kerajaan damai
- Yesaya 2:1 Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
- Yesaya 2:2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
- Yesaya 2:3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem.”
- Yesaya 2:4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
- Yesaya 2:5 Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan!
By the way, kalo kita kembali ke konteks Kitab Yehezkiel, perang Iran vs Amerika-Israel saat ini belum menjadi puncak Gog dan Magog, karna ada satu pola penting: Israel digambarkan sedang “tinggal dengan aman, tanpa tembok, tanpa pertahanan” ketika serangan Gog datang . Artinya, kondisi saat itu bukan Israel yang sedang dalam eskalasi konflik aktif dengan backup militer Amerika atau bangsa manapun, tetapi justru fase “false sense of security”. Lebih tepat keliatan nya bahwa perang saat ini adalah akan menjadi baseline, yang menuju konfigurasi retaliation yang lebih besar.
~vctrmldb