Belakangan ini saya memperhatikan satu pola yang menarik, dari 3 sudut pandang agama besar Abrahamic.
Tiga agama tsb yaitu Kristen, Yahudi, dan Islam. Yang sama-sama sedang menunggu satu figur penyelamat dunia di akhir zaman.
Tapi yang bikin saya merenung lebih lama adalah ini: cara mereka (Yahudi dan Islam) menggambarkan sosok itu ternyata punya titik pertemuan.
Dan titik pertemuan itu justru membuka satu kemungkinan besar yang selama ini ga terpikirkan oleh saya: bagaimana jalan damai, bahkan sampai pembangunan Bait Suci Ketiga, bisa terbuka. Bagaimana terjadi nya nubuat dalam kitab Wahyu bisa terlaksana.
Dalam iman Kristen, Mesias itu sudah jelas:
Yesus yang adalah Imam, sekaligus Raja, dan sekaligus Nabi. Satu Pribadi yang menyatukan tiga otoritas dalam diri Nya.
Dalam diri Nya, pola Mesias itu sudah sempurna: Dia menderita, Dia memerintah, dan Dia akan datang kembali untuk menghakimi dan memulihkan segala sesuatu.
Tapi ketika saya lihat teologi Yahudi, konsep Mesias itu dibedakan menjadi dua figur: Mesias ben Yosef dan Mesias ben David. Mesias ben Yosef adalah Mesias awal, bukan nabi, sifatnya lebih politis, muncul di masa krisis, bisa menderita atau mati dalam konflik. Sedangkan Mesias ben David adalah Mesias puncak, raja damai, memerintah di masa keemasan Israel.
Lalu ketika saya geser pandangan ke dunia Islam, saya menemukan dua figur utama di akhir zaman: Imam Mahdi (bukan nabi) dan Nabi Isa bin Maryam (Yesus dalam versi Islam).
Dan di sini pola itu mulai kelihatan jelas.
Mahdi digambarkan sebagai pemimpin di masa kekacauan: membawa keadilan, memimpin umat, menyatukan wilayah dan memoersiapkan umat Muslim untuk menyambut nabi Isa. Sedangkan Imam mahdi sendiri bukanlah nabi.
Itu mirip sekali dengan fungsi Mesias ben Yosef (bukan nabi) dalam kacamata Yahudi: pemimpin awal, muncul di tengah krisis, membuka jalan bagi fase besar berikutnya untuk menyambut Mesias ben David.
Sedangkan Isa versi Islam digambarkan turun sesudah itu: dia akan menghancurkan Dajjal, menegakkan keadilan, memimpin masa damai, dan memerintah dalam periode yang tenang.
Fungsinya Isa sangat dekat dengan gambaran Mesias ben David: raja damai di fase puncak sejarah umat.
Di titik ini, saya melihat pattern yang cukup rapih. Yahudi percaya dua figur: ben Yosef (awal/masa krisis) dan ben David (puncak/masa damai).
Islam juga percaya dua figur: Mahdi (awal/masa krisis) dan Isa (puncak/masa damai).
Struktur Yahudi dan struktur Islam ternyata mirip! Keduanya membagi peran itu menjadi dua tokoh.
Keduanya melihat “penyelamat” sebagai manusia (bukan Anak, bukan ilahi). Keduanya berbicara tentang pemimpin yang hadir di masa krisis (politik), lalu dilanjutkan oleh pemimpin di masa damai (religius).
Wait… dalam Kekristenan sebenarnya ada pola yang sama, yaitu Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus di saat masa krisis. Bedanya, semua itu sudah digenapi 2000an tahun lalu. Dan karna Yahudi tetap tidak percaya kepada Yesus maupun pekerjaan Yohanes Pembaptis, maka kekosongan atau “gap” teologi Yahudi itu, menurut saya, sangat mungkin terisi oleh sosok dari tradisi Islam nanti nya.
Matius 11:18 Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.
Matius 11:19 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”
Jadi dari sini, saya melihat bahwa ada satu pola yang justru bisa membuat Yahudi dan Islam bertemu di satu titik. Dan titik tsb saya yakin akan membuka jalan perdamaian antara kerajaan Israel dengan dunia Islam.
Bayangkan skenarionya: di masa depan, entah itu kapan, muncul seorang pemimpin Muslim yang karismatik, adil, anti ekstrem, dan mau berdamai dengan Israel. Umat Islam melihatnya sebagai Imam Mahdi. Di sisi lain, tokoh penting di kalangan umat Yahudi bisa dilihat sebagai figur atau sosok yang cocok dengan Mesias ben Yosef: pemimpin awal yang membuka jalan bagi fase berikutnya antara Israel dengan dunia Islam.
Kalau pemimpin ini kemudian meredakan konflik, menjamin keamanan Yerusalem, dan membuka ruang perundingan yang realistis, maka hal yang saat sekarang ini kita rasa mustahil, tiba-tiba kelihatan mungkin nanti nya: pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem.
Dari sudut pandang Yahudi, itu bisa dibaca sebagai: Tuhan mulai bekerja lewat ben Yosef, untuk menyambut Mesias ben David.
Sedangkan daei sudut pandang sebagian Muslim, itu bisa dibaca sebagai: Imam Mahdi sedang menata ulang dunia dengan cara yang adil dan bijaksana. Dan bagi dunia Islam pun cerita ini belum akan selesai disitu. Karna dalam kepercayaan dunia Islam, setelah masa Mahdi, Isa akan turun.
Isa yang mereka pahami sebagai nabi besar, bukan Anak Allah, akan memimpin fase berikutnya, mengalahkan Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi, dan membawa masa damai bagi umat Muslim, tetapi bertindak tegas terhadap Yahudi yang menolak nya, dan terhadap umat Kristen yang di anggapnya telah menyimpang dari Injil.
Ini saya melihatnya akan sejalan dengan pola Mesias ben David versi teologi Yahudi: raja damai, fase puncak, pemerintahan yang tenang. Dan Bait Suci di perbolehkan di bangun kembali oleh tokoh ini, tidak lain juga untuk kepentingan bersama. Apa itu?
Bagi umat Islam: itu adalah bagian daei persiapan kedatangan Isa. Setelah peran Imam Mahdi selesai.
Dan bagi Yahudi: itu adalah tanda awal bagi kedatangan Mesias ben David, setelah peran Mesias ben Yosef tuntas.
Jadi jika saya tarik kesimpulan:
Imam Mahdi meiliki pola mirip dengan Mesias ben Yosef (pemimpin awal, muncul di masa krisis, politik militer), sedangkan Isa dalam Islam memiliki pola yang mirip dengan ben David (masa damai, fase puncak). Tetapi yang akan membedakan secara mendasar KHUSUS nya antara Isa (mesias versi Islam) dan Mesias ben David (versi teologi Yahudi) adalah soal urutan kemunculannya: siapa yang tampil lebih dulu. Sebab posisi Isa dan posisi Mesias ben David tidak mungkin berjalan berdampingan dalam dua kronologi yang berbeda, salah satunya pasti akan meniadakan skema yang lain. Karna salah satunya akan duduk di Bait Suci Yerusalem untuk memimpin dunia, sebagai figur penutup zaman.
Untuk Imam Mahdi dan ben Yosef masih bisa muncul berbarengan: Mahdi mewakili dunia Islam, ben Yosef mewakili Yahudi Israel. Karena keduanya sama-sama diposisikan dalam teologi Islam dan Yahudi sebagai figur pendahulu sebelum kedatangan pemimpin puncak. Tetapi untuk posisi pemimpin puncak nya, yaitu sang pembawa damai, sang penakluk musuh jahat, sang penutup jaman itu hanya bisa 1: entah dari jalur Islam atau dari jalur Yahudi. karena peran tersebut secara teologis bersifat eksklusif, final, absolut.
Sekali lagi lihat, dalam Kristen juga ada pola tsb tapi beda nya itu sudah di genapi ribuan tahun lalu oleh Yohanes dan Yesus. Yohanes datang lebih dulu di saat masa krisis umat Israel masa itu, sebagai seseorang yang mempersiapkan jalan bagi Mesias, dan Yesus hadir sebagai ben David yang memerintah dengan otoritas Ilahi. Dengan kata lain, pola itu dalam Kristen bukan sesuatu yang nanti akan terjadi, itu pola yang sudah selesai digenapi dalam Kekristenan.
Di sini, Yahudi dan Islam justru tanpa saya sadar sebelumnya, menyimpan struktur cerita akhir zaman yang bisa saling mengait.
Disini saya tidak sedang menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya tetap teguh dalam iman saya sendiri sebagai Kristiani. Yang saya lihat disini adalah pola. Dan pola ini, klo disusun, tampak seperti sebuah rangka yang bisa dipakai untuk membuka jalan damai, kerja sama sementara antara kerajaan Israel dengan dunia Islam. Bahkan itu bisa membuka kemungkinan teknis dan politis untuk pembangunan Bait Suci Ketiga di Yerusalem.
Yahudi bisa menganggap: Ini ben Yosef kami, dan nanti setelahnya akan datang ben David.
Muslim bisa berkata: Ini Imam Mahdi kami, dan nanti Isa Al Masih akan turun.
Sementara dunia yang tdk percaya pada agama Abrahamic mungkin hanya melihatnya sebagai: Era baru stabilitas Timur Tengah.
Di tengah semua itu, pada moment itu, iman Kristen justru membaca pola yang sama ini dari kacamata yang BERBEDA.
Bagi saya pribadi, ini hanya terlalu rapih untuk disebut kebetulan. Tiga agama dan tradisi besar, tiga versi cerita, tapi pola dasarnya mirip: figur awal di masa krisis, lalu figur damai di masa puncak.
Pada titik kecocokan antara Islam dan Yahudi itulah, saya melihat satu celah besar yang bisa membuka jalan damai sementara, dan sekaligus jalan bagi berdirinya kembali Bait Suci di Yerusalem.
| Iman | Tampil di masa krisis | Tampil di masa puncak | Kapan |
| Yahudi | ben Yosef | ben David | nanti |
| Islam | Mahdi | Isa | nanti |
| Kristen | Yohanes Pembaptis | Yesus Kristus | 2000 tahun lalu |
Source: https://www.chabad.org/library/article_cdo/aid/101747/jewish/Mashiach-ben-Yossef.htm
~vctrmldb