Kali ini saya mau membahas tentang perenungan pribadi terkait kisah Adam di taman Eden, dalam kitab Kejadian. Belum lama saya menyarankan adik saya untuk membaca Alkitab, sebaiknya dari kitab Kejadian, bukan hanya dari kitab Matius. Agar akar nya jelas, sehingga nanti bisa memahami kitab Perjanjian Baru dengan lebih baik.
Jadi, setelah Adam memakan Buah Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dia diusir dari taman itu supaya tidak memakan pula buah dari Pohon Kehidupan. Karna kisah Pohon Kehidupan dalam kitab Kejadian berkaitan langsung dengan janji keselamatan dan hidup kekal yang digenapi dalam kitab Wahyu. Memang, musuh kita bukanlah darah dan daging, melainkan spiritual warfare dengan si Iblis (makhluk roh). Sebab Iblislah yang menanamkan benih kejahatan di hati manusia, agar manusia menolak penebusan Yesus dan hubungan manusia dengan Allah tidak pernah pulih kembali. Itu sebabnya banyak orang akhirnya tidak memahami benang merah dari rencana keselamatan Allah sejak semula, bagaimana kisah Adam, Nuh, Abraham, Israel, hingga Mesias sebenarnya saling terhubung dalam satu misi yang sama.
Semuanya sebenarnya satu rangkaian cerita besar tentang rencana pemulihan Allah terhadap manusia. Ini yang perlu dicatat: Allah memulihkan huhungan manusia dengan diri Nya.
Dimulai dari Adam, hubungan manusia dengan Allah terputus karena dosa.
Lalu melalui Nuh, Allah menunjukkan bahwa Dia menyelamatkan yang benar di tengah dunia yang rusak saat itu. Melalui Abraham, Allah menetapkan perjanjian dan janji keselamatan, bahwa dari keturunannya akan lahir satu bangsa yang menjadi berkat bagi segala bangsa.
Dan terkait Abraham, anak Abraham ada 2, yaitu Ismael dan Ishak. Kedua nya di berkati dan di janjikan kebesaran, tapi hanya 1 yang akan membawa Mesias.
Kejadian 17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
Kejadian 17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”
Bangsa itu adalah keturunan Yakub, yang juga disebut Israel, yang kemudian menjadi wadah dari seluruh nubuat dan hukum yang menunjuk kepada kedatangan Mesias, yaitu Yesus Kristus.
Jadi dari awal sampai akhir, benangnya sama:
Allah terus berusaha memulihkan hubungan manusia dengan diri Nya.
Sampai di titik ini, saya sejenak membandingkan benang merah yang ada dalam Alkitab dengan kitab lain yang bukan Injil, meskipun memiliki cerita kenabian yang mirip. Namun semakin saya telusuri, saya justru melihat di sana tidak ada kesinambungan rencana keselamatan untuk manusia dari Allah, melainkan hanya rangkaian narasi yang dibangun untuk mencari validasi, yang lahir dari kehausan untuk membenarkan diri, bahkan dengan cara menyalahkan dan merelatifkan kitab-kitab sebelumnya.
Pola seperti itu (claim: “kami yang benar” atau “kami yang asli”) saya temukan juga pada orang kilit hitam di Amerika yang menyebut dirinya sebagai orang Israel sejati atau True Israelites. Mereka selalu dan HANYA berusaha mencari validasi bahwa merekalah keturunan Israel yang asli, bangsa pilihan yang hilang. Gerakan ini banyak ditemukan terutama di lingkungan urban seperti New York, Chicago, Philadelphia, dan Los Angeles. Mereka sering menamakan diri sebagai Black Hebrew Israelites. Memakai pakaian warna ungu dengan simbol Ibrani seperti Menorah dan David Star.
Jadi, pada dasarnya ada kesamaan motif pada mereka: “Kami tidak percaya versi mereka, karna mereka telah memalsukan sejarah”. Saya sebut, roh mereka sama.
Kejadian 3:22 Berfirmanlah Tuhan Allah: Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.
Kejadian 3:23 Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.
Kejadian 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Dan di moment tsb saya menyadari bahwa sebetulnya Tuhan tidak sedang menghukum Adam, melainkan sedang menyelamatkannya dari konsekuensi yang lebih besar.
Selama ini banyak orang, termasuk saya dulu, ketika membaca kisah Adam di taman Eden, sering berpikir bahwa Tuhan sedang marah. lalu mengusir nya dari taman yang indah tsb. Padahal kalau diperhatikan baik-baik, keputusan Tuhan di moment itu justru adalah tindakan PENYELAMATAN yang pertama kali dilakukan untuk manusia berdosa.
Bayangkan: setelah Adam memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di taman Eden, manusia menjadi tau yang baik dan jahat, tapi tdk mampu hidup sepenuhnya dalam kebaikan itu. Manusia sudah kehilangan hidup dalam HADIRAT Tuhan, yang sebelum momen pelanggaran itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dalam kondisi seperti ini, kalau Adam dibiarkan memakan buah dari pohon kehidupan, maka Adam akan hidup selamanya dalam keadaan berdosa dan penderitaan.
Dan itulah yang Tuhan cegah. Tuhan paham, hidup kekal tanpa pemulihan bukanlah hidup, tapi kutuk permanen yang tidak pernah selesai. Ibarat.. orang yang sakit parah lalu diberi umur yang panjaaaang bangett, tanpa diberikan kesembuhan. Dia memang tdk mati, tapi justru harus menanggung sakit itu selamanya.. Begitu pula hidup kekal tanpa pemulihan dari Tuhan: bukan kehidupan, tapi kutuk penderitaan yang tak berujung.
Maka Tuhan menutup jalan ke pohon kehidupan, bukan karna ingin menjauhkan manusia dari Nya, tetapi agar manusia tdk terkunci dalam keabadian yang rusak. Seperti Iblis, makhluk berdosa yang hidup abadi, sehingga tdk dapat dipulihkan.
Tuhan menempatkan kerub dan pedang menyala untuk menjaga jalan Adam ke pohon kehidupan itu, supaya manusia menunggu sampai waktunya tiba: sampai manusia bisa dipulihkan dari dosa, sehingga manusia dapat hidup kekal dalam keadaan yang benar bersama Tuhan, di Rumah Tuhan. Sejak moment itu, rencana penebusan dimulai. Dan setelah momen penebusan tsb, manusia DI PERBOLEHKAM KEMBALI memakan buah dari Pohon Kehidupan. Agar manusia dapat hidup permanen dengan keadaan nya yang tidak berdosa.
Yesus berkata dalam Wahyu 2:7 ..Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yohanes 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”
Dulu Tuhan menghalangi manusia agar tidak hidup kekal dalam dosa.
Kini Tuhan membuka jalan agar manusia hidup kekal dalam kebenaran Yesus Kristus.
Lalu masalah muncul.. penyesat tidak senang kabar penebusan itu.. Maka dia, si Iblis membuat struktur teologi yang mirip dengan Injil, yaitu manusia dapat menerima hidup kekal TANPA KONSEP Penebusan.
Arti nya, manusia yang telah berdosa, bisa hidup kekal asalkan seimbang antara setumpuk dosa dengan dua tumpuk perbuatan baik..
Kalo begitu, disini kita mesti mengerti agar tidak terkecoh adalah memahami apa arti kata yang asli dari kata “dosa” dalam Kekristenan.
Kata “dosa” yang sekarang, sudah terlalu sering dicampuradukkan dengan pengertian umum dari ajaran lain, sampai akhirnya banyak orang Kristen tdk lagi paham apa yang sebenarnya dimaksud Alkitab ketika berbicara tentang dosa itu sendiri.
Sebab “dosa” dalam bahasa asli nya adalah “hutang” maka hutang mesti nya harus di bayar lunas, bukan hanya berhenti berhutang dengan kata maaf. Kata maaf, berarti berhenti berhutang, bukan melunasi nya.
Misal: maafkan saya Tuhan karna saya telah berbuat dosa..
Analogi yang saya temukan dari kotbah Pdt. Esra Soru sangat menarik.
Sekarang bayangkan: ada seseorang berhutang sekian juta, lalu datang dan berkata: Saya minta maaf pak karna sudah berhutang, saya janji tidak berhutang lagi.
Apakah dengan minta maaf, hutangnya yang sekian juta telah lunas?? Tidak.
1 Korintus 6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Bagaimana jika hutang tsb haya dapat di bayar dengan kematian manusia?
Alkitab mencatat, upah dosa adalah maut/kematian, Roma 6:23 Sebab upah dosa ialah kematian.
Jadi, manusia yang mau membayar hutang/dosa dengan Tuhan, dia harus mati. Memang betul mausia bisa membayar hutang tsb dengan diri nya sendiri, tdk perlu di subtitusi (digantikan) dengan Yesus Kristus, tetapi setelah manusia mati karna bayar hutangnya, dia tidak dapat hidup kembali untuk MENIKMATI kehidupan setelah bayar hutang. Dengan kata lain, hutangnya memang lunas, tapi orangnya sudah tidak ada. Di moment itu, ADIL memang terpenuhi, tetapi KASIH tidak terjadi.
Yang tersisa hanyalah kebinasaan permanen tanpa kebangkitan. Dan itu jelas bukan pola rencana kerja Tuhan dalam Alkitab.
Itu sebabnya hanya Dia yang sanggup membayar hutang dosa manusia sepenuhnya, karena hidup Nya tdk berasal dari dunia. Dia mati sebagai manusia, tapi kuasa Nya melunasi sebagai Allah yang hidup kekal.
Kolose 2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,
Arti ayat tsb sederhana: di dalam Yesus, Allah hadir sepenuhnya dalam wujud manusia. Bukan sebagian, bukan utusan, tapi seluruh kuasa, sifat, dan hakekat Allah itu sendiri benar-benar ada di dalam diri Yesus, hanya saja dinyatakan dalam bentuk tubuh manusia.
Jadi Yesus bukan manusia yang dijadikan Tuhan, seperti tuduhan Dondy Tan, Zakir Naik atau Ahmad Deedad, dan semacamnya yang adalah sang guru-guru palsu (dalam kacamata iman Kristen). Tapi Allah yang mengenakan tubuh manusia untuk mengalahkan kematian bagi manusia.
Agenda Arsitektur Penyesatan
Naah saat hati dan fikiran manusia gagal memahami misi Yesus Kristus dalam Alkitab, disitulah tercipta celah ruang yang di isi oleh Iblis.. Pertama Iblis ini menciptakan struktur logika teologi yang mirip dengan Injil, kemudian ujung nya dia bikin manusia BERFIKIR: mati masuk neraka dengan maksd bayar hutang, lalu setelah lunas manusia hidup lagi di surga.
Tentu Iblis ga menulis dan menyusun stuktur logika teologi tandingan nya tsb atas nama diri nya sendiri, tapi dia mengambil rupa sebagai “Yang Mahakuasa”. Tujuan nya jelas, menandingi Alkitab agar manusia dapat hidup kekal tanpa perlu penebusan/pemulihan. Atau pemulihan yang dapat di usahakan sendiri.
Padahal di Alkitab jelas Neraka bukan tempat Rehabilitasi, tapi tempat penghukuman permanen/kekal/abadi. Begitu seseorang masuk ke dalamnya, berarti dia sedang menjalani konsekuensi final dan permanen.
Tapi bayangkan kalo logika tsb memang benar adanya: maka kematian hanya soal durasi siksaan.
Surga dan neraka jadi seperti mesin laundry yang bisa membersihkan manusia dari noda dosa.
Padahal Alkitab menegaskan, setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan kedua untuk hidup.
Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi. Ibrani 9:27
Jadi, ide bahwa seseorang bisa membayar dosa di neraka lalu pindah ke surga adalah bentuk penyesatan yang mengerikan. Sebab manusia diajak ke sana untuk dilenyapkan dengan jalan di yakinkan bahwa dirinya masih punya waktu setelah dari neraka. Padahal Alkitab dengan tegas menyebut tempat tsb sebagai hukuman kekal/permanen/abadi, yang awalnya di ciptakan hanya untuk Iblis.
Ingat, yang rusak di awal itu adalah “hubungan” manusia dengan Allah, karna pelanggaran makanya hubungan tsb terputus.
Dari sini kelihatan kalo Iblis gak masalah manusia beragama atau tidak beragama. Dia cuma selalu memastikan bahwa manusia beragama tanpa hubungan dekat dengan Allah seperti semula di taman Eden. Karna jika manusia percaya di hapus dosa nya karna menerima penebusan Yesus, maka manusia tsb menjadi pulih hubungan nya dengan Allah. Tapi jika tidak menerima penebusan Yesus, maka dosanya tetap melekat, dan hubungannya dengan Allah tetap terputus.
Sebab tanpa penebusan, tidak ada pemulihan. Tanpa tersembuhkan nya sebuah penyakit, percuma mendapat umur panjang kan?
Dalam kekristenan, misi penyelamatan progresif dari Adam hingga Kristus sangatlah konsisten. Semua konsisten dari Kejadian hingga Wahyu. Adam, Nuh, Abraham, Israel, Mesias. Garis ini disebut “covenantal line” atau rantai perjanjian keselamatan Tuhan. Misinya konsisten: PEMULIHAN hubungan manusia dengan Allah yang rusak sejak jaman Adam.
~vctrmldb