Agama Meminta Usaha, Injil Memberi Penebusan: Agama Adalah Takhta Iblis

Dan itu sebab nya Satan pun, ada yang mengatakan bahwa mereka memiliki Agama. Duh..! Kristen bukanlah Agama tapi pengikut Kristus, Yahudi pun bukanlah Agama tetapi Etnik. Justru karna Kristen dan Yahudi di kira nya adalah Agama, itu sebab nya kemudian muncul konsep lain yang disebut secara tegas sebagai Agama.

Sunday, March 30, 2025

Ini adalah bagian dari refleksi pribadi saya, bagaimana saya sampai pada keyakinan bahwa Kristen sejatinya bukan agama. Banyak pengkhotbah mungkin pernah menyampaikan hal yang sama, tetapi saya tidak ingin kesimpulan saya dibentuk oleh mereka. Maka yang saya lakukan, saya mencarinya sendiri, secara pribadi. Sebab jika kita jujur menelaah, agama pada dasarnya tidak memiliki konsep penebusan. Yang ditawarkan hanyalah tuntutan atas amal dan perbuatan baik, seolah manusia bisa menyelamatkan dirinya sendiri lewat usaha.

Saya tidak menolak bahwa agama memiliki manfaat. Saya sendiri pertama kali mengenal Tuhan melalui agama yang disebut Kristen. Tapi di titik tertentu saya mulai sadar: ini bukan sesuatu yang bisa diagungkan mutlak, karena agama bukan jalan keselamatan: Yesuslah jalannya. Dan Kristen adalah sebutan pengikut Kristus, bukan Agama Kristus.

Menjadi Kristen sejak lahir tidak menjadikan seseorang benar-benar mengenal Yesus secara benar. Memang Agama membentuk disiplin, mengatur jadwal, membentuk kebiasaan, menuntut ketaatan. Tapi ketaatan yang lahir darinya seringkali hanya tampak di permukaan.

Semakin saya menyelami betapa kuatnya konsep ini membentuk cara berpikir manusia dan mengarahkan hati manusia, saya menyadari bahwa ini adalah arena spiritual. Di balik struktur yang tampak suci, ada logika yang sebenarnya menjauhkan manusia dari relasi dengan Tuhan. Dan di titik itu saya mulai melihat: inilah cara halus Iblis bekerja, bukan dengan terang-terangan menolak Tuhan, tapi dengan menggantikannya lewat konsep yang di klaim sebagai jalan Nya.

Bagi orang yang beragama dengan taat, mungkin pada awalnya mereka bisa merasakan kenikmatan spiritual dari rutinitas dan disiplin yang dijalani. Tapi lambat laun, ketika ketaatan itu tidak lahir dari relasi dengan Tuhan, melainkan hanya dari konsep, maka kecenderungannya berubah: dia mulai menuntut orang lain untuk menaati hal yang sama, karena standar yang telah dia bangun sendiri. Ketaatan berubah menjadi kontrol, dan Agama menjadi alat penghakiman.

Saya pernah ada di fase di mana saya terlalu sibuk membedakan mana ajaran yang benar dan mana yang sesat. Mana yang murni, mana yang palsu. Mana aliran yang dianggap bidat, mana yang katanya sahih. Otak saya dipenuhi daftar kriteria yang harus dicocokkan: ini agama asli, ini palsu; ini punya nabi, ini nggak sah, ini kitab suci, ini buatan manusia. Tapi semakin saya tenggelam dalam pencarian itu, semakin saya sadar: ini bukan tentang kebenaran lagi, tapi tentang kebutuhan manusia untuk membenarkan diri melalui konsep Agama. Dan di titik itu, saya merasa saya sedang diarahkan pada satu konsep yang lebih dalam, konsep agar Satan disembah oleh manusia. Dan Agama adalah sebagai takhta nya.

Karna manusia dipancing untuk masuk ke dalam kerangka berpikir religius, memilah-milah agama, aliran, kesesatan, padahal konsep “agama” itu sendiri adalah jebakan, sebuah kerangka buatan yang tidak berasal dari Tuhan, melainkan dari sistem yang mau menggantikan relasi dengan struktur ketat.

Ini ibarat sebuah jerat yang halus tapi kuat. Otak seseorang dipancing untuk masuk ke dalam kerangka yang sejak awal tidak pernah dimaksudkan: kerangka agama. Dan begitu seseorang masuk di kerangka tsb, dia hanya akan berputar-putar dalam konsep tsb, sampai akhirnya memilih jalan yang telah di sediakan oleh Iblis: “Agama ini yang benar”.

Kita didorong untuk memilah:

Mana agama yang benar? Mana yang palsu? Mana yang sesat?

Lalu perdebatan itu berkembang:

Aliran mana yang murni? Mana yang bidat? Mana yang terpecah?

Dan begitu kita sibuk bergumul dengan klasifikasi di sana, perlahan otak kita diarahkan untuk menyimpulkan:

“Harusnya ada satu agama yang benar”.

Tapi… apa Tuhan dalam Alkitab pernah membentuk agama? Itulah pertanyaan kunci yang sering diabaikan. Sebab Iblis yang mengimitasi Tuhan bisa jadi mau di sembah seperti Tuhan tetapi bukan dalam bentuk Relasi, tetapi Agama.

Hingga akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa Yesus tidak datang untuk mendirikan Agama. Dia datang untuk mengakhirinya. Dan saya melihat, ini fondasi dari seluruh kisah Injil. Seperti yang sudah saya uraikan di halaman lain, tentang Agama adalah produk Babel yang di bawa orang Israel dari pembuangan ke Yerusalem, hingga sampai ke kedatangan Yesus saat itu.

Yesus Tidak Mendirikan Agama

Banyak orang hari ini menganggap Kristen sebagai salah satu dari sekian banyak Agama dunia. Tapi kalau kita baca Injil dengan jujur, Yesus sendiri tidak pernah mendirikan institusi keagamaan. Bahkan, bisa dibilang musuh utama Nya adalah sistem agama itu sendiri, para pemimpin Farisi, imam-imam kepala, ahli Taurat, yang secara lahiriah terlihat saleh, tapi Alkitab katakan batinnya kosong.

Matius 23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Apakah karna orang Farisi ini Yahudi dan menolak Yesus Kristus? Bukan. Itu karna mereka memegang konsep Agama. Yang sebelum orang Israel dan Yehuda kembali dari Babel, konsep itu tidak ada. Dengan kata lain, yang sebelum nya tidak ada malah menjadi ada karna mereka kembali.

Yesus tidak pernah datang dengan membawa regulasi baru. Dia tidak menyuruh orang mengikuti ritual baru. Dia justru datang untuk memperjelas semuanya. Bukan manusia yang naik ke surga, tetapi Tuhan yang turun ke bumi. Inilah Injil. Bukan kabar tentang apa yang harus kita kerjakan untuk selamat, tetapi tentang apa yang sudah Tuhan kerjakan agar orang selamat. Penampilan luar vs pembaruan batin.

Agama menggantungkan keselamatan pada upaya manusia: semakin seseorang taat, semakin tinggi probabilitasmu untuk selamat. Tapi Injil menyingkapkan sesuatu yang radikal: keselamatan bukan pencapaian, tapi pemberian. Pemberian yang di dasari oleh pengharapan. Pengharapan yang di dasari oleh rasa sadar bahwa seseorang perlu di belaskasihani oleh Tuhan.

Saya pernah merasa harus jadi sempurna. Harus menekan semua dorongan “gelap” dalam diri saya. Tapi semakin saya menekan, semakin saya nggak jujur. Dan ujungnya, saya jatuh ke dalam kemunafikan, bukan karena saya mau, tapi karena saat itu saya merasa harus. Dan sadar atau tidak, kemunafikan seperti itu lama-lama bisa bikin seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri.

Contoh: hidup dalam peran, bukan dalam realitas. Jadi, yang dia kenali setiap hari adalah versi yang dia mau tampilkan ke orang lain, bukan siapa dia sebenarnya. Dengan sering begitu, dia makin hampa karena ekspresi luar dan realitas dalam dirinya nggak sinkron.

Atau misal nya: dia belajar menekan emosi, tapi bukan memahami emosi. Saat dia marah, dia lupa MEMAHAMI diri nya kenapa dia marah? Tapi langsung merasa “saya nggak boleh marah, itu dosa.” Maka kemarahan itu nggak pernah dikelola, hanya dikubur.

Saya sadar, di banyak komunitas religius, hal ini terjadi sangat masif. Dorongan manusiawi ditekan. Rasa ingin tau dianggap sesat. Emosi dianggap lemah. Bahkan seksualitas pun dibungkam tanpa ruang untuk dipahami secara sehat. Tapi represi semacam itu tidak pernah menghasilkan kesucian, yang muncul justru ledakan psikologis dan kepalsuan sosial.

Yesus tau itu. Dia tidak datang untuk menambah beban. Dia datang untuk memikulnya. Dan Dia datang bukan untuk orang-orang yang merasa dirinya cukup, tapi untuk mereka yang hancur, remuk, dan sadar bahwa mereka nggak sanggup menolong diri mereka sendiri.

Jews Adalah Etnik

Dalam pencarian saya, saya juga menyadari bahwa identitas Yahudi itu etnis, bukan agama. Bahkan ketika seorang Yahudi menjadi ateis atau percaya kepada Yesus, dia tetap Yahudi. Ini menunjukkan bahwa dari awal, relasi perjanjian bukanlah sistem agama seperti yang kita kenal hari ini.

Ini ditegaskan sejak awal ketika Tuhan menyebut Israel sebagai “anak-Ku yang sulung” (Kel. 4:22), bukan sebagai penganut agama tertentu. Identitas mereka lahir dari relasi perjanjian, bukan sistem kepercayaan. Bahkan ketika dipanggil untuk “beribadah kepada-Ku” (Kel. 4:23), itu bukan ritual institusional, melainkan panggilan untuk kembali kepada hubungan sebagai anak. Jadi, Yahudi bukan agama, tetapi suku dan itu identitas yang melekat, bahkan saat mereka menolak iman sekalipun mereka tetap orang Yahudi.

Keluaran 4:22 Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung;
Keluaran 4:23 sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Itu sebab nya dalam Yahudi TIDAK ada konsep penyebaran Agama, yang memiliki konsep dakwah, yang adalah perintah eksplisit: mengajak manusia masuk ke dalam Agama dan mengikuti hukum nya. Yang bersifat struktural dan berbasis konversi formal.

Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Begitu pula apa yang di perintahkan Yesus bukan penyebaran agama, melainkan PEMURIDAN. Bukan konversi ke Agama, tapi panggilan untuk mengenal dan mengikuti pribadi. Sebab jika hanya konversi ke “Agama Kristen” tanpa mengenal pribadi Yesus, dia tida memiliki relasi. Sebab pemuridan Nya bertujuan untuk memiliki relasi dengan Tuhan, dan relasi itu akan selalu diuji. Dan relasi itulah yang berusaha di tutupi oleh Iblis, menggunakan Agama.

Pemuridan Yesus bukanlah kampanye religius, melainkan panggilan personal. Tujuannya bukan ekspansi Agama, tapi membentuk manusia baru, yang lahir baru, hidup dalam anugerah.

Dan hal ini membuka mata saya tentang bagaimana kita keliru dalam memahami Kristen hari ini. Kristen bukan sistem Agama yang berdiri sejajar dengan Islam, Buddha, atau Hindu. Dia bukan kumpulan dogma dan tata cara ibadah yang menjanjikan surga jika kita cukup baik melakukan ritus-ritus nya. Kristen adalah pernyataan Tuhan dalam sejarah peradaban manusia, bukan sistem manusia menuju Tuhan, melainkan kisah Tuhan yang turun dan tinggal bersama manusia.

Saya jadi sadar, terlalu banyak orang sibuk kelihatan saleh. Sibuk membangun citra religius. Sibuk menekan dorongan dalam dirinya agar bisa tampak religius. Tapi di balik semua itu, batin mereka sebenarnya rapuh, penuh rasa bersalah, dan terjebak dalam praktrik keagamaan yang tidak menyembuhkan jiwa mereka. Lebih parah nya lagi, mereka mulai mengontrol orang lain.

Saya nggak pengin hidup seperti itu lagi. Saya lebih pengin jujur, sadar bahwa saya butuh anugerah keselamatan. Bahwa saya nggak akan pernah cukup baik. Bahwa semakin saya mencoba membenarkan diri, semakin saya gagal. Dan justru di titik itulah saya tau: saya butuh Yesus. Bukan agama tentang Yesus, tapi pribadi Yesus itu sendiri.

Sekali lagi, bagi saya agama memang baik, tapi bukan sesuatu yang bisa diagungkan mutlak. Terlalu bebas pun sama berbahayanya. Karena ketika kebebasan dilepaskan dari kebenaran, manusia bukan menemukan terang: tetapi tersesat dalam dirinya sendiri. Dia mengira sedang merdeka, padahal hanya melepaskan satu kendali untuk ditelan oleh yang lain.

Dulu dikekang oleh aturan, sekarang dikuasai oleh naluri.

Bukan benar-benar bebas, tapi terombang-ambing tanpa kompas, karena kebebasan tanpa kebenaran bukanlah kemerdekaan, itu hanyalah bentuk baru dari perbudakan.

Dari sinilah akhir nya saya dapat memahami, bahwa Agama adalah takhta Iblis. Satan bertakhta bukan hanya di tempat gelap. Dia bertakhta di sistem yang tampak bercahaya, tapi isinya adalah perlawanan terhadap salib dan kasih karunia. Dia tidak memiliki konsep penebusan. Tetapi usaha perbuatan baik.

AspekRelasiAgama
PenebusanTuhan sendiri turun dan menebus manusia karena kasih Nya, mulai dari Mesir-Maut (Kej. 3:15, Yoh. 3:16)Tidak ada penebusan. Keselamatan di ukur pada skala usaha manusia
Motivasi Berbuat BaikBerbuat baik karena sudah diselamatkan oleh anugerah (Ef. 2:8-10, Tit. 3:5-6)Berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan melalui amal dan kepatuhan hukum.
PerjanjianHubungan dijalin lewat ikatan janji yang bersifat personal dan KEKAL (Kej 14:7, Kel. 19:5-6)Tidak ada perjanjian. Hubungan bersifat kontraktual dan hierarchy
Identitas RelasionalHubungan sebagai Bapa dan anak. Tuhan lebih dulu mencari manusia, seperti Gembala mencari domba nya (Kej. 3:9, Luk. 19:10)Ibarat domba mencari gebala nya. Tidak ada kedekatan personal, hubungan sebagai hamba
Penyataan Diri TuhanTuhan menyatakan diri dalam wujud manusia, Roh KudusTuhan hanya disampaikan lewat cerita dalam buku kitab dan hukum
PengampunanManusia ditebus dari kuasa Dosa oleh Pribadi Ilahi yang berkorban, oleh karena Kasih NyaDosa diampuni jika manusia taat hukum, militan tanpa toleransi
Paradigma KuasaKuasa Tuhan hadir dalam setiap kelemahan, menghampiri yang hancur, lemah dan hinaKekuasaan Tuhan digambarkan dalam jarak dan ketakutan. Tidak ada ruang untuk keakraban personal
KasihKasih tanpa syarat. Diberikan bahkan saat manusia belum layak (Rom. 5:8, 1 Yoh. 4:8-10) bahkan yang berseru “kasihanilah aku” (Luk. 18:13)Kasih diberikan bagi yang militan religius. Bukan bagi yang tersungkur dan hancur sebagai pendosa

Sekali lagi: Yesus tidak mendirikan agama. Dia mengakhirinya. And I believed in Jesus and that’s it.

Dia katakan, “Ikutlah Aku”. Injil bukan tentang regulasi, tapi relasi. Dan relasi akan di uji. Semoga kita semua tahan uji. Amin.

~ vctrmldb

By:

Posted in:


Leave a comment