Esa dalam Tritunggal, Oneness, dan Unitarian: My Journey of Understanding

Thursday March 06 2025, Missouri. USA

Izin ambil off hari ini, demi untuk menuntaskan pemaparan ini. Sesuatu yang sebenarnya sudah lama tersimpan, hanya menunggu saat yang tepat untuk mengurai yang selama ini tertahan, menyingkap yang tersamarkan, dan menyusun kembali potongan-potongan yang tercecer di archive IG Story. Like I always say: Pembahasan ini bukan hal baru, hanya lebih terurai, disini.

Ini sensitif, seriously I got it. But.. Don’t be afraid to question theological traditions. It’s on us to speak up and stand for what’s right.

Bagi saya, perdebatan seperti apakah Yesus Kristus Tuhan atau bukan, adalah perdebatan yang membuat orang Kristen teralihkan dengan pesan nubuatan akhir zaman. Lupa untuk berjaga-jaga, memahami pergerakan dunia, dan bersiap menghadapi konsekuensi dari rencana Tuhan yang sedang berlangsung. Padahal untuk bisa berjaga-jaga, kita mesti menguasai pola. Bahkan dalam bidang apapun, memahami pola sangat penting.

Yesus jelas Tuhan, jika bisa melihat pola tsb dalam keseluruhan Alkitab. Yesus bukan Tuhan jika melihat dengan pola yang lain. Tetapi ketika seseorang mampu melihat pola Yesus adalah Tuhan, maka SEMUA pesan keselamatan yang tersimbol, termaterai dan terenkripsi ribuan Tahun, akan orang itu terima. Sebalik nya, yang tidak mampu melihat, maka mereka akan meninggalkan Tuhan. Sama hal nya dengan perdebatan yang mau saya komentari sekarang.

1 Timotius 6:4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,

Dulu, tepat nya tujuh tahun lalu saat saya tinggal di Phnom Penh, saya pernah terjebak dalam polemik ini: Tritunggal kah atau Oneness? Kalau Unitarian, saya sama sekali tidak ragu percaya bahwa itu justru yang memperteguh kesesatan.

Awalnya, saya pikir ini cuma soal mencari jawaban teologis mana yang paling benar. Saya pun mulai mencari tau untuk memahami berbagai argumen, dari yang klasik Timur sampai yang modern Barat, berharap bisa menemukan rumusan yang paling masuk akal.

Memang betul, bahwa akhirnya ada yang saya nilai masuk akal sekali. Tetapi justru dari situlah letak PERTANYAAN nya timbul di pikiran saya. Apakah sesuatu yang tampak masuk akal tsb berarti selaras dengan kebenaran Tuhan dalam KONTEKS di Alkitab?

Makin dalam saya menelusuri, makin saya mengerti bahwa perdebatan terkait hal ini bukan sesuatu yang baru. Dari sejarah, kita bisa lihat bahwa persoalan ini sudah ada sejak lama, tepatnya sejak banyaknya bidat-bidat Kristen muncul di abad-abad awal, misalnya Arianisme, Sabellianisme, dan Gnostisisme. Mereka mencoba merumuskam Tuhan secara logika manusia.

Saat itu, perdebatan teologis bukan sekadar diskusi akademik, tapi persoalan keyakinan. Jemaat (entah itu di zaman dulu atau sekarang) biasanya hanya ingin beribadah dengan tulus, tetapi malah ditarik ke dalam pusaran argumen yang ruwet oleh para bidat-bidat yang mengajarkan bahwa Yesus bukan Tuhan, tetapi hanya ciptaan tertinggi. Perdebatan ini memecah gereja, sehingga kekaisaran membutuhkan keputusan teologis yang pasti oleh para uskup dari berbagai wilayah kekaisaran Romawi. Akhirnya Gereja kemudian merumuskan doktrin seperti Tritunggal dalam Konsili Nicea (325 Masei) dan Konsili Konstantinopel (381 Masehi).

Perlu diingat, pada zaman itu umat Israel (yang sudah percaya maupun yang belum percaya) sedang mengalami pembuangan besar-besaran ke berbagai wilayah kekuasaan Romawi. Pembuangan ini adalah kelanjutan dari kehancuran Bait Suci Kedua pada tahun 70 Masehi oleh Jenderal Titus, yang kemudian diperparah oleh pemberontakan melawan Kekaisaran Romawi pada abad ke-2 Masehi yang dipimpin oleh Bar Kokhba (132-135 Masehi). Akibatnya, Gereja pada saat itu semakin terpisah dari akar Yahudinya.

Yang saya perhatikan, pada masa itu justru jemaat sedang terjebak dalam kerangka pertanyaan para bidat. Saya yakin masa-masa itu samaa persis seperti umat Kristen saat ini yang terjebak dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya bukan bagian dari FOKUS pewahyuan Tuhan untuk misi penyelamatan.

Sejak menyadari hal itulah saya tidak mau lagi terjebak dalam kerangka pertanyaan yang dikemas seolah-olah “rasional dan intelektual”, tetapi sebenarnya merupakan operasi konseptual yang menggiring pemikiran dan jawaban saya ke arah yang telah dikondisikan. Pola-pola pertanyaan atau metode bertanya sepetti itu bukan hal baru, tetapi sudah ada sejak lama. Dan di jaman Yesus pun itu sering di gunakan untuk menjerat Dia. (Matius 22:15, Yohanes 8:6, Lukas 20:5).

Saya yakin, ketika kita mulai memahami ini, kita akan sama-sama melihat fenomena debat-debat itu dengan cara yang berbeda, seperti yang sudah saya alami. Kita akan menyadari bahwa banyak dari argumen yang dipertahankan dengan begitu serius tentang “Esa”, sebenarnya hanyalah produk dari pemikiran mereka sendiri yang mencoba menyusun Tuhan dalam formula yang cocok bagi akal mereka. Dan kondisi tersebut menurut saya adalah kondisi bahwa Gereja sedang dalam masa pemurnian nya, sedang dalam masa pemulihan pemahaman nya.

Dan pada titik itu, kita akan bertanya, apakah yang kita cari benar-benar Tuhan, atau hanya kepuasan intelektual untuk membuktikan bahwa kita lebih benar daripada orang lain? Pertanyaan itu pula yang timbul di kepala saya saat itu.

Lanjut ke pembahasan..

Saat saya merujuk ke ayat di kitab Ulangan yang sering di gunakan sebagai argumen dalam perdebatan teologis:

Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!

Yang saya perhatikan, (coba kita sadari konteks di zaman itu) kata “ESA” dalam bahasa asli nya adalah Echad. Perhatikan: sebenarnya umat Israel di masa itu tidak sedang bergumul dengan konsep Tritunggal seperti kita sekarang, melainkan sedang bergumul dengan bahaya penyembahan ke para allah dari bangsa lain, termasuk Mesir. Itu sebab nya di tegaskan, seperti: “Tuhan itu Allah mu, Tuhan itu satu-satu nya di tengah-tengah kalian.” atau, frasa ini lebih mirip dengan “Me is the only one” (Aku satu-satunya) bukan “I am just one, not three” (Aku hanya satu, bukan tiga, dst).

Artinya, penekanan utama bukan pada elemen atau jumlah atau struktur Tuhan, tetapi pada eksklusivitas Nya sebagai satu-satunya yang benar di tengah Israel. Bukan seolah-olah sedang membantah konsep yang baru muncul berabad-abad kemudian.

Untuk memahami nya, sebetulnya sama seperti kita memahami konteks yang terkandung dalam sila pertama Pancasila:

1. Ketuhanan yang Maha Esa.

Mau dibawa ke mana arti “Esa” di sini? Tanpa konteks yang jelas, maka akan diseret ke dalam perdebatan yang tidak relevan dengan maksud asli nya.

Jika konteksnya mengacu pada kebhinekaan bangsa Indonesia, maka “Esa” berarti berketuhanan dalam keberagaman, memberikan ruang bagi setiap agama untuk memahami Tuhan sesuai keyakinannya.

Namun, jika “Esa” dimaknai secara absolut sebagai ketunggalan mutlak tanpa unsur lain, maka tafsir ini menjadi berpotensi mengarah pada konsep ketuhanan di agama tertentu saja.

Maka jelas bagi saya. Yang memperdebatkan ayat Ulangan 6:4 sebagi Tuhan itu 1 wujud dan bukan 3, sebenarnya tidak nyambung. Mereka membahas sesuatu yang bukan fokus utama dari ayat tersebut. Seriously I’m gonna show to you a pattern: bagaimana diskusi Gereja dengan para bidat di abad 1-4, justru kemudian di abad-abad selanjutnya malah di adopsi, dan bagaimana hal itu dimasukan ke konsep pewahyuan FINAL. Lalu seolah-olah sebagai finalitas, kemudian ingin menyatakan kekeliruan dari wahyu sebelumnya dan ingin memberikan jawaban final bagaimana hakekat Tuhan itu. Tetapi saya melihat nya, hal itu justru malah membuat dia kehilangan kesinambungan dengan konteks aslinya.

Jadi, Ulangan 6:4, inti yang ditekankan di sana bukan tentang “berapa bentuk atau jumlah” Tuhan, tapi tentang eksklusivitas Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang benar di tengah-tengah umat Israel. Konteksnya adalah peringatan agar Israel tidak tergoda dengan ilah-ilah asing, bukan untuk menjawab perdebatan apakah Tuhan itu 1 dalam esensi, dll. Dengan kata lain, ayat ini tidak nyambung jika dipakai untuk membantah konsep Tritunggal atau mengokohkan konsep Oneness, apalagi untuk menyatakan Tuhan tidak “memperanakan/diperanakan” yang bahkan belum ada di zaman itu. Perdebatan Tritunggal vs Oneness ini yang saya perhatikan, berawal dari pertanyaan bodoh para bidat. Tetapi yang menjawabnya jadi terdesak dan terjebak disana.

Pola-pola seperti inilah yang selalu saya lihat muncul dan membantu saya saat sedang memetakan dari mana Antikristus dan kerajaannya akan muncul. Sebab, ketika beberapa nubuat belum digenapi dan pengenalan belum dipulihkan, tetapi sudah ada klaim finalitas pewahyuan.

Misalnya yang sudah saya tuliskam dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya: konsep Agama (on progress), konsep kerajaan dan pemerintahan, imam besar, bait suci, pakaian ibadah (next time), konsep umat pilihan, konsep penyelamatan di akhir zaman, konsep penyembahan kepada Tuhan, konsep ibadah. Yang kesemuanya ini di borong dalam 1 paket, lalu di patenkan dengan klaim identitas pewahyuan final, mutlak, dan sempurna. Padahal apa nya yang sempurna jika kita tau bahwa itu semua adalah produk manusia Israel, yang sejak dulu selalu mencari cara nya sendiri untuk mengenal Tuhan.

Dengan demikian, panggung bagi Antikristus mulai terbentuk sebagai lawan yang kuat dan mengerikan. Dia muncul dengan kedok kebenaran final, mengangkat dirinya seolah-olah berhak atas tempat yang bukan miliknya. Finalitas itu seakan ingin membuktikan kekeliruan wahyu sebelumnya yang telah di beritakan oleh para rasul Kristus, mencelanya, namun justru tampak tidak memiliki kesinambungan. Pada akhirnya, semua itu hanya membawa manusia menuju jurang maut.

Ibarat seorang pegawai baru yang datang di tengah perdebatan panjang di antara para staf lama mengenai isi surat perintah dari direktur.

Dia merasa telah memahami inti masalah, dengan percaya diri dia memberikan interpretasi tegas, bahkan mengoreksi pemahaman yang telah diperdebatkan oleh para staf sebelumnya. Lebih dari itu, dia mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang memahami maksud asli sang direktur, seolah-olah interpretasinya tsb adalah final dan tidak perlu dipertanyakan lagi.

Namun, ketika akhirnya ada yang memeriksa kembali KONTEKS surat tersebut, barulah mereka sadar bahwa perintah itu sebenarnya tidak membahas masalah yang selama ini diperdebatkan.

Ironisnya, pegawai baru tadi yang merasa paling tegas dan paham itu justru terjebak karena telah terlanjur membuat klaim finalitas. Dia menempatkan dirinya sebagai penyempurna pemahaman, padahal justru semakin menjauh dari maksud asli direktur yang tertulis dalam surat tersebut.

Pengetahuan kebenaran yang seharusnya terus berkembang dalam penggenapan rencana Tuhan, justru dibatasi oleh konsep yang mengklaim sebagai final. Dan itulah yang akan membuat banyak orang tidak mengenali wahyu yang sejati dan menyelamatkan, tetapi justru menerima yang palsu dan membinasakan. Jika kebenaran benar-benar berasal dari kebenaran sejati, maka pengertiannya akan terus hidup dan terus menyingkapkan kebenaran sesuai dengan waktu Tuhan. Dulu kita masih ganjil dalam memahami nya, tapi kemudian pengertian kita menjadi genap karena Tuhan terus bekerja dalam waktu Nya.

Mazmur 119:18 Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang
    keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.

Kembali ke Pembahasan Awal

Misal ada seorang raja yang mengatakan ke rakyatnya, “Aku satu-satunya raja kalian, jangan ada raja lain di antara kalian!” Dia mengatakan demikian bukan untuk menjelaskan apakah seorang raja bisa punya beberapa wujud, tetapi karena di negerinya banyak yang ngaku-ngaku raja dan membuat rakyat bingung. Tapi lucu nya bertahun-tahun kemudian, ada orang yang baca pernyataan itu dan malah berpikir kalau sang raja saat itu sedang membantah konsep kepemimpinan yang punya lebih dari satu wujud. Padahal yang sedang ditekankan sejak awal itu simpel: “Jangan terkecoh sama raja-raja palsu, cuma aku yang sah!”.

Begitulah konteksnya.

Dalam bahasa Ibrani, kata “Echad” (אֶחָד) memang sering digunakan untuk kesatuan yang bisa terdiri dari banyak unsur (satu yang jamak), misalnya dalam Kejadian 2:24: “…mereka menjadi satu (echad) daging.” Ini menunjukkan bahwa dua individu (suami-istri) bisa menjadi satu kesatuan. Yehezkiel 37:17 “Gabungkanlah kedua kayu itu menjadi satu (echad), sehingga menjadi satu dalam tanganmu.”.

Dari contoh-contoh ini, jelas bahwa echad bukan sekedar angka “1” dalam arti absolut layaknya Ahad dan Yachid. tetapi lebih sering digunakan untuk kesatuan (Ehad) yang tersusun dari berbagai elemen.

Bagi saya, polemik perdebatan Tritunggal atau Oneness atau Unitarian membantu saya menyadari satu hal: Saat polemik “Esa” dikembalikan ke akar sejarahnya, akan terlihat bahwa ayat tersebut tidak sedang membahas Tritunggal atau ketunggalan absolut atau apakah Allah memperanakan atau diperanakan, tetapi menegaskan eksklusivitas Tuhan di tengah umat Nya. Sehingga itu akan membuat perdebatan Tuhan itu 1 bukan 3, diperanakan atau tidak, dll. Menjadi kehilangan relevansi nya samasekali.

Tetapi bagi saya sendiri, hal itu adalah rahasia Yang Maha Kuasa. Silahkan saja di teliti oleh orang lain yang mampu menangkap Tuhan dengan akalnya. Meskipun saya tidak bisa memasukkan kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa ke dalam kepala saya, bukan berarti iman saya keliru. Jika ada yang bisa memasukkan hakikat tuhannya dengan SEDERHANA ke dalam kepalanya, ke dalam rumus matematika, atau menjelaskan Nya sepenuhnya dengan akal manusia yang terbatas, maka bagi saya itu bukan Tuhan yang sejati, melainkan hanya konsep buatan manusia.

Tuhan yang sejati melampaui batas pikiran manusia, karena jika Dia dapat sepenuhnya dipahami dengan SEDERHANA, maka Dia bukanlah yang Mahakuasa.

Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

All Glory to my Lord, Jesus Christ. Amen.

~ vctrmldb

By:

Posted in:


Leave a comment