Agama: Produk Babel yang Mulai Mendapatkan Tempat Kemuliaannya Hingga Melahirkan Antikristus

Sebelum saya mempublish tulisan terkait bagaimana 7 gunung = 7 raja, perempuan = Yerusalem = Babel besar, dan bukan Eropa atau Amerika seperti yang banyak di katakan itu. Hingga siapa kerajaan yang di maksud sebagai The Beast ini. Terlebih dulu saya mau menuntaskan tulisan terkait konsep Agama, yang sebetulnya tidak ada dalam Alkitab maupun Taurat. Tapi bagaimana kemudian ini muncul dan akhirnya jadi jalan bagi sang Antikristus dan kerajaan nya tsb yang disebut The Beast dalam kitab Wahyu.

Entah disadari atau tidak oleh para sarjana Teologi maupun pembaca lainnya, tetapi yang saya lihat, pola ini terbentuk dengan jelas dan konsisten, sebagaimana yang telah saya uraikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya terkait pola. Itu bukan sekadar argumen tanpa memiliki dasar, semua itu dapat ditelusuri dalam berbagai peristiwa di Alkitab. Begini: jika memperhatikan pola yang ada dalam Alkitab, kita akan sadar bahwa tata cara ibadah Israel kuno adalah pola peribadatan bangsa Mesir yang selama ratusan tahun orang Israel lihat setiap hari, ketika mereka menjadi budak di Mesir. Kemudian hal-hal yang mereka lihat tsebut mereka INGINI dan mereka tuntut dari Musa-Harun, dst. Mereka mulai menghendaki sosok allah yang bisa mereka lihat dan ikuti, maka terbentuklah patung Lembu Emas.

Keluaran 32:1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.”

Selanjutnya orang Israel yang baru keluar dari perbudakan di Mesir itu mulai menghendaki ada nya seorang raja di tengah mereka, untuk memimpin mereka.

1 Samuel 8:4 Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama
1 Samuel 8:5 dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”
1 Samuel 8:6 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada Tuhan.
1 Samuel 8:7 Tuhan berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.
1 Samuel 8:8 Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.
1 Samuel 8:9 Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

Seperti juga hal nya memiliki hukum, pakaian imam, bait suci, imam besar, seorang pemimpin, hingga militer kekaisaran. Semua itu fakta dan tidak bisa di abaikan bahwa pengalaman bangsa Israel di Mesir mempengaruhi pemahaman mereka tentang struktur keyakinan dan sosial mereka. Tetapi Tuhan tetap memiliki kendali untuk mengarahkan bagaimana pakaian dibuat, bait suci di dirikan dan kemudian menguduskan struktur dan elemen-elemen tersebut sesuai dengan kehendak Nya, dan membedakan praktik ibadah Israel dari bangsa-bangsa lain. Tanpa arahan Tuhan, semua itu tidak akan kudus.

Jadi meski itu adalah pengadopsian dari budaya Mesir, namun Tuhan ijinkan dan menguduskan hal itu untuk bangsa Israel agar mereka beribadah kepada Nya dengan cara yang kudus dan berbeda dari bangsa-bangsa lain. Tetapi itu semua sifatnya SEMENTARA hingga Mesias mereka datang dan menggenapi semua hukum Taurat.

Imamat 20:8 Demikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah Tuhan yang menguduskan kamu.

Imamat 20:26 Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku.

Itu semua adalah sebuah konsep yang berpola, digunakan dalam sejarah umat Tuhan untuk merepresentasikan suatu realitas yang lebih besar di kekekalan. Sistem ibadah dengan hukum, bait suci, imam, dan ritual hari raya bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya bayang-bayang dari sesuatu yang lebih kekal dan sempurna . Dan tidak semestinya di pertahankan terus jika musim nya sudah berganti.

Ibrani 10:1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

Pola ini terus terjadi, bagaiaman umat Tuhan meniru dari yang sebelum-sebelum nya. Dengab contoh lain: dulu Israel memerangi bangsa pagan hingga tanah Kanaan menjadi milik pusaka nya. Kemudian di ikuti oleh Kekristenan Romawi memerangi paganisme, setelah Kristen di akui sebagai Agama kekaisaran Romawi. 

Lalu dulu Israel kuno tidak mengenal istilah Agama, praktek keyakinan mereka melekat dengan nasionalisme kerajaan Israel. Baru hanya setelah kembali dari pembuangan ke Babel, mereka mulai mendefinisikan keyakinan mereka yang disebut Agama. Kemudiam konsep ini di adopsi Kristen. 

Terkait tentang “Agama”, saya ingin menjelaskan maksudnya lebih dalam, karena sebelumnya (sekitar tahun 2020) saya sempat membahas ini secara singkat di IG story:

Keyakinan Yahudi mulai terdefinisi sebagai “agama” sebenarnya terbentuk ketika mereka mempertahankan ritual ibadah mereka KETIKA mereka di pembuangan ke Babel (sedang tanpa negara fisik). Saya melihat hal itu logis terjadi, karena sebelum mereka dibuang ke Babel, kerajaan Israel tidak memisahkan antara keyakinan IMAN dan sistem pemerintahan kerajaan. Hukum Taurat adalah undang-undang dasar kerajaan yang mengatur kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, nasionalisme mereka adalah satu kesatuan dengan iman mereka. Bahkan raja mereka pun di jaman-jaman tertentu juga adalah nabi Tuhan.

Maka ketika mereka sedang dalam masa pembuangan, yang pada saat itu adalah yang “BESAR” PERTAMA KALI mereka terbuang (2 Tawarikh 36:20-21). Yang nubuat nya sudah di katakan lebih dulu oleh Nabi Yeremia 25:11). Saat di Babel ibadah mereka mesti beradaptasi, dari yang sebelumnya terpusat di Bait Suci Yerusalem, menjadi sistem ibadah yang bisa dijalankan di perantauan. Konsep sinagoga dan studi Taurat (Teologi) otomatis juga berkembang dan MEMBUDAYA hingga pada jaman Yesus Kristus. Bahkan ajaran para rabi-rabi Yahudi pun dianggap sebagai sumber kedua, yang berisi penjelasan dan pelengkap dari Taurat itu sendiri, yang kemudian disebut Mishnah, Talmud.

Dengan demikian, masa pembuangan ke Babel menjadi titik sejarah dalam transformasi Yudaisme menjadi Agama. Dari yang sebelumnya merupakan kesatuan antara kepercayaan dan pemerintahan kerajaan Israel, menjadi sebuah AGAMA yang lebih terstruktur dan berdiri sendiri, TERPISAH dari sistem kenegaraan. Iman menjadi disebut Agama, dan Nasionalisme menjadi identitas Politik. Konsep inilah yang saya perhatikan akan menjadi jalan untuk Antikristus. Karena dia akan menggabungkan nya lagi. Like I said: imitation.

Itu sebab nya tidak pernah ada di dalam Alkitab, bahwa para Nabi Tuhan membentuk sebuah Agama. Dan selanjutnya di ulang kembali pola nya, lalu di patenkan bahwa itu dari Ilahi. Duh.

Dan setelah mengerti hal ini, pernyataan “yang di restui Ilahi” menjadi tidak relevan bagi saya.

Lanjut ke Pembahasan..

Musim-musim seperti itu seharusnya berubah sejak penyaliban Kristus, karena dengan kematian dan kebangkitan-Nya, sistem ibadah tidak lagi terikat pada struktur lahiriah seperti Bait Suci, ritual-ritual korban, dan hukum-hukum seremonial.

Yohanes 2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.

Namun, Gereja pada saat itu mengadopsi pola “Agama” dari kerajaan bangsa Israel, yang setelah kembali dari pembuangan di Babel, mulai lebih menekankan sistem hukum, ritual, dan institusi keagamaan yang lebih terdefinisi.

Hal itu pun tidak sepenuhnya salah, karena dalam konteks sejarah, Gereja berada dalam transisi dari komunitas kecil orang percaya menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar setelah diakui oleh Kaisar Konstantinus pada abad ke 4 dan kemudian dijadikan agama resmi Kekaisaran Romawi oleh Theodosius I pada tahun 380 M. Pada masa itu, umat Gereja menghadapi tantangan untuk bertahan di tengah lingkungan sosial politik Romawi yang masih penuh dengan pengaruh paganisme. Maka, hierarchy keagamaan yang lebih formal dan terorganisir menjadi cara bagi Gereja untuk mempertahankan ajaran mereka dan membedakan diri dari pengaruh paganisme. Dalam proses inilah Gereja mengadopsi beberapa konsep dari tradisi Yahudi, tetapi juga mengadaptasi elemen-elemen dari struktur sosial kekaisarn Romawi.

Namun di sisi lain, pola lama yang seharusnya sudah berganti justru menjadi sesuatu yang dipertahankan hingga menjadi konsep yang tetap. Padahal dalam Kristen, Kristus telah MEMULIHKAN dengan membawa ibadah yang lebih esensial dan berbasis pada hubungan langsung dengan Tuhan, seperti yang dialami Abraham. Bukan dalam bentuk ritual Agamawi lagi, seperti yang dilakukan orang Israel yang kembali setelah masa pembuangan, yang pada moment pembuangan itu sebagai cara untuk mempertahankan identitas mereka tanpa Bait Suci. Mereka secara tradisional kiblat nya menghadap Yerusalem saat berdoa.

Perhatikan ibadah Daniel semasa di Babel

Daniel 6:11 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

Apakah konsep Agama itu salah? Saya jawab tidak juga, karena konsep “agama” yang diperkenalkan oleh bangsa Yahudi dari pembuangan ini membantu orang Israel di jaman tsb untuk bisa mempertahankan Iman, meskipun tanpa negara fisik atau sedang ada di perantauan. Ini jelas konsep yang Tuhan ijinkan dan Tuhan juga kuduskan supaya umat Nya tetap beribadah kepada Nya dalam berbagai circumstances.

Namun, meskipun ibadah Kristen seharusnya berbeda dari konsep Yahudi, pola itu tetap dipertahankan di era Romawi dan tanpa disadari menjadi bagian melekat dalam identitas Gereja saat itu. Yaitu Agama (konsep yang di bawa oleh orang Israel dari pembuangan ke Babel).

Dengan sendirinya, hal itu membuka jalan bagi entitas berikutnya untuk mengukuhkan, dan bahkan menetapkan pola konsep tersebut sebagai struktur yang lebih ketat, hingga membangun identitasnya sebagai kebenaran yang final.

Lalu ketika Israel dan Gereja di pulihkan dari pemahaman dan dari cara ibadah seperti itu, apa yang bisa di perbuat oleh entitas yang mengimitasi pola itu? Dia tidak dapat dipulihkan SAMASEKALI! Karena telah terlanjur membangun identitas nya sebagai Agama dan Final! Dengan begitu dia menjadi jalan bagi lahirnya Antikristus di akhir zaman. Pemimpin yang lalim dan menindas umat Tuhan.

Saaya sudah uraikan di tulisan-tulisan sebelumnya, bagaimana entitas ini mengadopsi segala pola-pola yang saya sudah kemukakan disana, namun pada tingkatan yang paling ekstrim daripada yang dilakukan Israel dan juga Gereja.

Pengadopsian itu tidak akan pernah bisa disadari nya kecuali oleh individu yang memohon untuk di pilihkan. Tetapi bagi institusi nya sendiri, tidak akan pernah bisa. Sebab dalam perjalanannya, pemahaman yang sebenarnya masih belum utuh di kalangan umat Tuhan, justru disimpulkan secara definitif dan di kukuhkan dengan lebih TEGAS. Dan kemudian menetapkannya sebagai doktrin final yang tak terbantahkan, sambil mencela dan mengkritisi wahyu sebelum-sebelumnya.

Apa yang terjadi dalam perjalanan Iman umat Tuhan, dari Mesir hingga era Gereja bukanlah sepenuhnya sebuah penyimpangan. Saya percaya Tuhan mengijinkan hal tersebut terjadi atas Israel dan Gereja, sebagai bagian dari proses PEMURNIAN, agar umat Nya tidak menjadi lahan bagi pekerjaan Iblis untuk melahirkan sang Antikristus. Yaitu sang pangeran Kedurhakaan.

Tulisan saya yang ini akan menjadi dasar argumen saya selanjutnya untuk memahami siapa Perempuan yang duduk di atas binatang, seperti yang di sebutkan dalam Wahyu 17:3. Itu adalah Israel yang sebentar lagi memerintah bangsa-bangsa dan menjalim koneksi dengan binatang, dan kemudian binatang tsb akhirnya berbalik memerangi perempuan tsb.

Jangan tinggalkan Doa Bapa Kami sebab jika melihat tanda-tanda musim saat ini, ini sudah semakin relevan mendekati penggenapan nya. Tidak jauh lagi.

Amin.

~ vctrmldb

By:


Leave a comment